Pola makan bayi yang benar

Tag

, , , ,

Makan adalah sebuah experience, adventure dan hiburan buat bayi. Pola makan menentukan perkembangan bayi karena sebenarnya makan adalah suatu proses mekanis yang melibatkan organ saluran pencernaan mulai dari mulut sampai ke lambung, usus halus dan usus besar. Di mulut terjadi pencernaan mekanis, dimana pencernaan dilakukan dengan bantuan gigi/gusi. Pencernaan mekanis pada bayi sebaiknya terus dilatih agar otot oromotor ikut berkembang/terlatih. Dengan berkembangnya otot-otot oromotor akan meningkatkan kemampuan berbicara anak, merangsang tumbuhnya gigi dan berkembangnya rahang.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pola makan menentukan perkembangan bayi. Hal yang perlu diingat bahwa bayi sehat bukan hanya dilihat dari berat badan saja, tetapi juga tinggi badan, keaktivan dan kelincahan gerak serta perkembangan motorik kasar.
Pertanyaanya: bagaimana pola makan yang benar untuk bayi kita? Berikut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Untuk bayi dibawah 12 bulan: berikan asi ekslusive, berikan makan yang natural (sefisiologis), berserat, ber phytokimia/phytochemical, dan berbentuk padat. Jika asi tidak mencukupi dapat diberikan susu formula uht/pateurisasi. Usahakan dan biasakan mekosumsi susu tanpa rasa/plain. Hindari makanan lunak/cair (ada produk susu yang sebenarnya adalah makan cair yang harusnya dikosumsi oleh pasien pasca operasi maka berhati-hatilah dalam memilih). Makanan cair tidak mengandung serat dan phytochemical, makan cair akan me-by pass proses pencernaan yang dapat menghambat pertumbuhan saraf dan otot motorik anak.
2. Untuk anak di atas 12 bulan: berikan asupan tambahan susu berkalsium (tanpa aa dan dha), jika anak tidak suka susu dapat diganti dengan keju. Berikan variasi makanan dan cara penyajiannya, hal ini agar anak tidak bosan. Hindari kebiasaan minum susu botol sebelum tidur.
Akibat jika anak mekosumsi makanan cair secara berlebihan: anak susah berbicara, tumbuh gigi tidak rata, gerak motorik anak berkurang.
Jadi mulai dari sekarang jaga pola makan anak, berhati-hati dalam memilih susu. Susu yang baik bukan therapic nutrient. Therapic nutrient adalah nutrisi khusus terapi untuk penderita penyakit pencernaan seperti usus, dan biasanya di berikan untuk anak pasca operasi. Susu ini tidak mengandung serat dan phytochemical (berguna untuk membantu mencegah kanker dan diabetes).
Semoga share ini membantu bunda dalam memilih makanan dan asupan tambahan buat bayinya.

Iklan

Tumbuh kembang kenzie prayata laksono

Tag

,

Lahir di RSIA ummu hani, Purbalingga, Jawa tengah, pada hari sabtu kliwon, 06 April 2013 secara cesar. Berat badan lahir 3,5kg dan tinggi 50cm. Nama Kenzie Prayata Laksono berarti pemimpin yang bijaksana.
Perkembangan bayi sangat fantastis hal ini terlihat dari peningkatan berat badan. Usia 1 bulan berat badan 4,2kg. Asi ekslusif diberikan.
Usia terus bertambah begitu pula dengan berat badanya. Kelebihan berat badan terjadi dan terus berlangsung sampai usia 5bulan. Pada usia ini bayi sudah memakai pempers ukuran M. Dengan berat badan 10kg
Usia 6 bulan anak memiliki berat badan 10,8kg, sangat fantastis bukan?. Badan yang besar tidak menghalangi buah hati kami untuk terus aktif. Usia ini sudah mulai duduk. Bayangkan ukuran pakaian buah hati kami. Ukuran pakaian yang dipakai adalah no 6. Dimana ukuran itu biasanya untuk anak 1,5th.
Umur 7 bulan gigi sudah mulai tumbuh, sudah merangkak, sudah mulai berbicara: jatuh, ayah, tante, mama, bunda serta sudah mulai berdiri. Berat badan sudah mulai turun menjadi 10kg. Masih sedikit over memang.
Dari awal kelahiran buah hati kami jarang sekali kami gendong. Karena memang anaknya tidak suka digendong serta bundanya keberatan kalau harus mengendong terlalu lama. Anda bayangkan saja jika harus mengendong 10kg selama 1 jam. Kebiasaan tersebut sangat membantu dalamb tumbuh kembang anak agar anak lebih aktif. Kebiasaan tidur setelah maghrib (18.00) dan bagun pukul 06.00 kami budayakan kepada anak kami. Dengan harapan akan terbiasa bangun pagi.
Kebiasaan yang kami tanamkan menjadi banyak pertanyaan dari ibu-ibu. Pertanyaan yang biasa ditanyaka antara lain:
1. Caranya biar anak ga bau tangan gimana ya bund? (Bau tangan: doyan di gendong)
2. Kok bisa aktif banget ya?

Jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah
1. Ada sedikit mitos dari kebudayaan jawa. Jika anak belum puput pusar (putus tali pusar) bayi jangan sering di gendong. Jadi biasakan bayi tidur di kasur/tempat tidur. Kebiasaan mengendong bayi dari kecil akan terbawa sampai besar.
2. Biarkan anak bergerak sesuai instingnya. Jangan larang anak untuk melakukan kegiatan atau gerakan tertentu, akan tetapi tetap awasi. Banyak ibu yang khawatir dengan anaknya sehingga anak terlalu di larang ini itu.

Semoga sharing ini bermanfaat.

First aids for baby

Tag

, , , , ,

Saat ini (8 Oktober 2013 aku punya bayi umur 6 bulan. Selama enam bulan ini banyak peristiwa yang kami alami. Peristiwa yang banyak di khawatirkan oleh ibu muda-pun kami alami, seperti: anak mendadak panas, timbul bercak merah (biang keringat), pilek dan digigit serangga maupun nyamuk. Ibu muda banyak yang mengambil jalan pintas untuk penyembuhan sibuah hati, seperti: segera ke bidan, dokter umum maupun ke dokter anak. Akan tetapi kebiasaan yang berbeda ku tanamkan untuk buah hatiku. Berikut ada beberapa hal yang biasa kami lakukan untuk memberikan pertolongan pertama kepada buah hati (first aids for baby) kami, yaitu:
1. Pilek
Jika buah hati kita pilek, yang pertama dilakukan adalah ambil bawang merah/kencur dan beras kencur. Bawang merah/kencur diparut atau dikunyah, beras kencur direndem air hangat setelah agak lunak campur dengan bawang merah/kencur yang sudah diparut/dikunyah tadi. Setelah itu tempelkan pada ubun2 bayi kita. Dan biarin aja sampai kering, sehari 2x kali aja ya bund….
Trus jangan lupa ambil bawang merah lagi dibelah dan disebar disekeliling kepala bayi saat bayi kita tidur. Ini berfungsi untuk melegakan pernafasannya.

2. Panas
Jika buah hati panas jangan berikan obat langsung ke bayi kita. Penurun panas (paracetamol) sebaiknya ibu yang meminum. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi bahan kimia langsung ke bayi kita. Tindakan ini hanya mungkin dilakukan oleh ibu yang menyusui. Penurun panas akan di salurkan secara tidak langsung yaitu melalui air susu ibu (ASI). Jika anda tidak menyusui usakan memberikan obat dengan dosis paling rendah. Hal ini dilakukan untuk menghindari ketergantungan obat pada masa yang akan datang. Penyembuhan bayi normalnya 3 hari. Biarkan sistem imun bayi kita bertumbuh.

3. Kembung
Coba pukul pelan perut bayi kita, jika berbunyi seperti gendang ada kemungkinan bayi kita kembung. Kembung bisa di akibatkan karena udara dingin atau angin, kebiasaan memberikan empeng atau meletakan bayi di lantai. Untuk memberikan pertolongan pertama kita dapat mengambil daun jarak muda, kemudian lumurin minyak, setelah itu hangatkan daun di atas panci. Setelah hangat tempelkan di pusar perhatikan arah tangkai daun harus menghadap ke bawah (kaki). Untuk hal terkait arah tangkai tersebut hanyalah sebuah adat turun temurun. Dengan kehangatan daun diharapkan angin dapat keluar dan buah hati anda ceria kembali.

Itulah sedikit tips pertolongan pertama bayi anda. Usahakan ada tetap tenang dan lakukan langkah tersebut. Jika dalam 3 hari buah hati anda belum sembuh segera konsultasi ke bidan atau dokter.

Ketuban Pecah Dini

Tag

Pengertian

  1. Ketuban Pecah Dini atau spontaneous/early/premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (Rustam Mochtar, 1998).
  2. Ketuban Pecah Dini adalah keadaan dimana kulit ketuban pecah secara dini pada waktu persalinan, sedang pembukaan masih kecil (Departemen Kesehatan RI).
  3. Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan ditunggu satu jam belum inpartu. Sebagian KPD adalah hamil aterm di atas 27 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu tidak terlalu banyak (Saefudin, 2002)

Etiologi

Penyebab dari PROM tidak atau masih belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi (Rustam Mochtar,1998).

  • Patogenesis
  1. Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, sevisitis dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan hipermotilitas rahim ini.
  2. Selaput ketuban terlalu tipis (kelainan ketuban)
  3. Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis)
  4. Fakor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah: multipara, malposisi, disproporsi servik inkompeten.
  • Tanda dan gejala
  1. Anamnesa : keluar cairan ngepyok.
  2. Sifat-sifat fisik cairan amnion : bau khas, warna keruh.
  3. Tes lakmus : alkalis.
  4. Mikroskopi : rambut laguno, butir lemak (vernik).
  5. Pemeriksaan penunjang
    • Gunakan kertas lakmus (litmus) :
    1. Bila menjadi biru (basa), maka air ketuban.
    2. Bila menjadi merah (asam), maka air kemih (urin).
    • Pemeriksaan pH forniks posterior pada PROM pH adalah basa (air ketuban).
    • Pemeriksaan histopatologi air (ketuban).
    • Aborizaton dan sitologi air ketuban.

PENYAKIT DAN KELAINAN ALAT KANDUNGAN

Tag

VULVA DAN VAGINA

Kelainan-kelainan yang dapat mengganggu jalannya persalinan dan kehamilan adalah

Kelainan Bawaan :

  • Penyempitan vulva atau vagina akibat perlengketan dan parut karena peradangan atau perlukaan pada persalinan yang lalu.
  • Septum vagina yang vertikal-longitudinal, yang distal atau proksimal, yang komplit atau tidak komplit. Keadaan ini tidak menghalangi koitus sehingga kehamilan dapat terjadi, namun dapat menghalangi turunnya kepala waktu persalinan.
  • Struktur vagina yang menyempitkan vagina biasa dari bawaan lahir dan tidak begitu menghalangi persalinan. Striktur karena parut dapat menghalangi persalinan, kadang-kadang persalinan harus diselesaikan dengan seksio sesarea.

Varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang bisa dijumpai pada tungkai, vagina, vulva, dan rectum.

Bahayanya dalam kehamilan dan persalinan adalah :

  • Bila pecah akan terjadi perdarahan sedikit atau banyak
  • Bila pecah dapat pula terjadi emboli udara dan ini bisa berakibat fatal.

Penanganan :

  • Jangan berdiri atau duduk terlalu lama
  • Jangan memakai ikat pinggang terlampau kencang (ketat)
  • Jalan-jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah
  • Memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastic
  • Dapat diberikan obat-obatan: Venosan, Glyvenol, Venoruton dan Varemoid.

Edema adalah penumpukan cairan karena bendungan local atau sebagai edema umum. Penyebabnya bisa local atau umum misalnya karena mal-nutrisi, pre-eklamsi, dan eklamsi. Penyebab local dapat disebabkan tekanan kepala terutama pada persalinan yang lama/terlantar dan panggul sempit.

Hematoma

Seperti telah dikatakan bahwa dalam kehamilan pembuluh-pembuluh darah vena dapat mekar, baik yang berada dalam rongga panggul maupun yang di luar (genitalia eksternal). Dalam kehamilan, persalinan atau sesudah bersalin pembuluh darah ini dapat pecah, menyebabkan perdarahan keluar atau tertutup (hematoma). Perdarahan dan hematoma volva dan vagina bisa pula disebabkan trauma, baik trauma di luar maupun trauma dalam persalinan.

Peradangan

Peradangan yang dijumpai dapat berupa vulvitis, vaginitis, kolpitis atau vulvo-vaginitis, vulvo-kolpitis, dan servitis. Bisa juga dijumpai Bartholinitis dan abses. Kuman-kuman penyebabnya  antara lain adalah :

Infeksi spesifik : sifilis, gonorea, trikomoniasis, kandidiasis, dan amubiasis.

Infeksi nonspesifik : eksema, pruritus vulvae, scabies, pedikulus publis, bartholinitis.

Pada infeksi tersebut di atas, wanita mengeluh adanya keputihan (fluor albus), demam, dan pada sifilis stadium II dijumpai kondilomata lata. Pada kehamilan, peradangan tersebut harus diobat. Obat yang diberikan harus dipikirkan apakah mempunyai efek buruk terhadap anak terutama dalam proses pertumbuhan organogenesis.

Kondilomata Akuminata

Kondilomata akuminata adalah pertumbuhan kulit dan selaput lendir seperti bunga kol atau jengger ayam jago, dengan permukaan kasar, papiler menonjol dengan warna agak gelap, berkumpul menjadi satu, dan disebut konglomerat. Penyebab pasti belum jelas, diduga disebabkan virus atau sebab lain. Jika kondilomata besar, dapat menghalangi kelangsungan persalinan. Oleh karena itu harus diobati :

  • Yang kecil : dieksisi atau dikikis dengan kuret
  • Yang besar : dieksisi lalu dikoterisasi
  • Di perifer, bila terdapat kondilomata yang kecil-kecil dan tidak begitu banyak, dikoter dengan albothyl

Kemudian diberi obat-obatan.

Kista Vagina

Biasanya berasal dari duktus Gartner atau duktus Muller, bisa berukuran kecil dan dapat menjadi besar sehingga bukan saja mengganggu pertumbuhan namun dapat pula menyukarkan persalinan. Bila dijumpai dalam kehamilan, penanganannya adalah :

Kehamilan muda : diekstirpasi setelah kehamilan 3-4 bulan

Dalam persalinan : jika kecil maka tidak menghalangi turunnya kepala, tidak mengganggu persalinan. Setelah 3 bulan pasca persalinan dilakukan ekstirpasi tumor. Bila besar dan menghalangi turunnya kepala, untuk mengecilkannya dilakukan aspirasi cairan tumor.

Fistula Obstetrik

Fistula obstetric bisa berupa : fistula vesiko-vaginalis, rekto-vaginalis, dan uretro-vaginalis. Dapat terjadi karena persalinan yang alam dan karena operasi. Pada persalinan, tekanan antara kepala dan tulang panggul pada jaringan lunak yang terlalu lama dapat menyebabkan jaringan tersebut oedematus, hematoma, dan akhirnya nekrosis. Beberapa hari atau minggu kemudian terjadilah fistula. Akibatnya wanita mengeluh beser kencing (inkotinensia urin) atau inkontinensia alvi (beser berak).

  • Wanita hamil dengan fistula: kehamilan dapat diteruskan dengan menjaga kebersihan selama hamil. Operasi plastic untuk menutup fistel dilakukan 3-6 bulan setelah bayi lahir.
  • Wanita yang hamil setelah operasi fistel (yang besar) tidak boleh melahirkan pervaginam karena akan menyebabkan bekas fistel terbuka lagi. Wanita ini ditolong dengan seksio sesarea.

 KELAINAN UTERUS

Kelainan Kongenital :

  • Uterus didelfis : terdapat 2 korpus, 2 serviks, dan 2 vagina.
  • Uterus septus  : 1 korpus, septum, 1 serviks, dan 1 vagina.
  • Uterus bikornis unikolis.
  • Uterus arkuatus.

Kelainan ini dapat mengganggu kehamilan dan persalinan. Misalnya terjadi abortus, partus prematurus dan kelainan his, kelainan letak dan posisi.

Kelainan Letak Rahim

Pada hamil tua, uterus membengkok dengan sumbunya ke kanan disebut latero-fleksi dekstra. Hal ini tidak menimbulkan gejala, kecuali agak mendesak dan kadang-kadang menekan pada ulu hati.

 Perut gantung (abdomen pendulum)

  • Perut gantung dijumpai pada multipara atau grandemultipara karena melemahnya dinding perut. Makin tua kehamilan, uterus makin bertambah ke depan sehingga fundus uteri lebih rendah dari simfisis. Akibatnya terjadi kesalahan letak janin, kepala janin tidak masuk ke ruang panggul. Proses persalinan akan terganggu, baik pada kala I maupun pada kala II. Namun, bila kepala tidak memasuki pintu atau panggul serta his baik dan kuat; persalinan dapat berlangsung secara biasa, sekurang-kurangnya dapat dibantu dengan ekstraksi vakum atau forsipal.
  • Selama kehamilan, wanita ini dianjurkan memakai gurita-korset bengkung atau ikat perut yang agak ketat dan kencang, yang menyokong perut dari bawah.

Retrofleksia uteri gravida inkarserato (RUGI)

  • RUGI ialah uterus hamil yang semakin lama semakin besar terkurung dalam rongga panggul, tidak dapat keluar memasuki rongga perut. Terkurungnya uterus, mungkin uterus retrofleksi, tertahan karena adanya perlekatan-perlekatan atau oleh sebab lain yang tidak diketahui (fiksata). Gejala-gejala: gangguan miksi, defekasi, rasa sakit, dan penuh di dalam rongga panggul.
  • Keluhan muncul pada kehamilan di atas 16 minggu, dimana uterus hamil mengisi rongga panggul. Terdapat 4 kemungkinan dari nasib kehamilan.

 

  1. Koreksi spontan : dimana pada kehamilan 3 bulan korpus dan fundus naik masuk ke dalam rongga perut.
  2. Abortus : hasil konsepsi terhenti berkembang dan keluar, karena sirkulasi terganggu.
  3. Koreksi tidak sempurna : dimana bagian yang melekat tetap tertinggal, sedangkan bagian uterus yang hamil naik masuk ke dalam rongga perut; disebut retrofleksia uteri gravidi partialis. Nasib kehamilan selanjutnya bisa : abortus, partus prematurus, terjadi kesalahan letak, dan bersalin biasa.
  4. RUGI : Penanganan : Bila tidak terjadi perlekatan dapat dilakukan : Reposisi digital jika perlu dalam narkosa, Koreksi dengan posisi genu-pektoral selama 3 x 15 per hari atau langsung dikoreksi melalui vagina dengan 2 jari mendorong korpus uteri ke arah atas keluar rongga panggul, Posisi Trendelenberg dan istirahat, Reposisi operatif.

 Prolapsus uteri

Descensus uteri atau turunnya uterus dapat dibagi dalam 3 tingkat :

  • Tingkat I   : uterus turun dengan serviks uteri sampai introitus vaginae.
  • Tingkat II : sebagian uterus keluar dari vagina.
  • Tingkat III: uterus keluar seluruhnya dari vagina dengan inversio vaginae.

 Kadang-kadang disertai pula dengan sistokel dan rektokel. Nasib kehamilan dengan prolapsus uteri :

  • Dapat terjadi keguguran, karena rahim yang membesar tetap dalam rongga panggul dan terjadi inkarserasi.
  • Kehamilan dapat berlangsung sampai a terme.
  • Persalinan dapat berjalan dengan lancar, namun sesekali terjadi kesulitan pada kala I dan kala II.

Yaitu : pembukaan berjalan pelan dan tidak sampai lengkap. Bila ada indikasi penyelesaian dapat dikerjakan insisi Duhrssen dan janin dilahirkan dengan ekstraksi vakum/forsep.

  • Koreksi prolaps dengan jalan operasi dilakukan setelah 3 bulan melahirkan.

 Tumor Rahim

  • Mioma Uteri dan Kehamilan

Frekuensi mioma uteri sekitar 1%, biasanya dijumpai mioma yang kecil, namun bisa juga dengan mioma yang besar.

(a)    Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma uteri :

(1)   Cepat bertambah besar, mungkin karena pengaruh hormon estrogen yang meningkat dalam kehamilan.

(2)   Degenerasi merah dan degenerasi karnosa : tumor menjadi lebih lunak, berubah bentuk, dan berwarna merah. Bisa terjadi gangguan sirkulasi sehingga terjadi perdarahan.

(3)   Mioma subserosum yang bertangkai oleh desakan uterus yang membesar atau setelah bayi lahir, terjadi torsi (terpelintir) pada tangkainya, yang menyebabkan gangguan sirkulasi dan nekrosis pada tumor. Wanita hamil merasakan nyeri yang hebat pada perut (abdomen akut).

(4)   Mioma yang lokasinya di belakang, dapat terdesak ke dalam kavum Douglasi dan terjadi inkarserasi.

(b)    Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan :

(1)   Subfertil (agak mandul) sampai fertile (mandul), dan kadang-kadang hanya punya anak satu;

(2)   Sering terjadi abortus;

(3)   Terjadi kelainan letak janin dalam rahim;

(4)   Distosia tumor yang menghalangi jalan lahir;

(5)   Inersia uteri pada kala I dank ala II;

(6)   Atonia uteri setelah pasca persalinan, perdarahan banyak;

(7)   Kelainan letak plasenta;

(8)   Plasenta sukar lepas (retensio plasentae).

Penanganan :

–          Pada umumnya bersifat konservatif, kecuali bila ada indikasi yang derita seperti terjadinya abdomen akut karena torsi pada tangkai tumor.

–          Pada distosia karena mioma

–          Bila partus berjalan biasa, mioma diberikan selama masa nifask kecuali ada indikasi akut abdomen.

–          Operasi pengangkatan tumor secepatnya dilakukan setelah 3 bulan pasca persalinan.

–          Mioma yang tidak begitu besar, kadang-kadang dalam masa nifas akan mengecil sendiri, sehingga tidak memerlukan tindakan operatif.

 Kanker Rakim

Kanker rahim yang sering dijumpai :

(a)    Kanker leher rahim (karsioma servisis uteri)

(b)    Kanker korpus rahim (karsioma korpus uteri).

Kanker, pada umumnya, dan kanker rahim, pada khususnya, memberikan pengaruh tidak baik terhadap kehamilan begitu pula sebaliknya.

 Pengaruh kanker rahim pada reproduksi :

–          Kemandulan

–          Abortus

–          Menghambat pertumbuhan janin

–          Kelainan pada persalinan

–          Perdarahan dan infeksi.

Penanganan : Tindakan bergantung pada umur, paritas, tua kehamilan, dan stadium kanker.

(a)   Wanita yang relatif muda dan hamil tua dengan kanker stadium dini dapat melahirkan janin secara spontan.

(b)   Dalam triwulan I dijumpai kanker leher rahim; dilakukan abortus buatan; kemudian diberikan pengobatan radiasi.

(c) Dalam triwulan II kehamilan; segera dilakukan histerotomi untuk mengeluarkan hasil konsepsi; kemudian diberikan dosis penyinaran.

(d)  Wanita relatif muda yang masih mendambakan tambahan anak dengan kanker leher rahim; dilakukan konisasi atau amputasi portio kemudian dikontrol dengan baik. Bila anak cukup sebaiknya dikerjakan histerektomi.

Kelainan Ovarium

Tumor ovarium mempunyai arti obstetrik yang lebih penting. Ovarium merupakan tempat yang paling banyak ditumbuhi tumor. Tumor ini dapat berupa kistik, padat, kecil, besar, dan memberikan pengaruh hormone; bisa jinak dan ganas. Yang sering dijumpai adalah : kista ovarii dan kista dermoid. Kista ovarii dapat menjadi besar sekali, yang disebut kista ovarii permagna.

Pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan :

  • Tumor yang besar dapat menghambat pertumbuhan janin sehingga menyebabkan abortus, partus prematurus.
  • Tumor yang bertangkai, karena pembesaran atau pengecilan uterus setelah persalinan; terjadi torsi dan menyebabkan rasa nyeri, nekrosis, dan infeksi yang disebut abdomen akut.
  • Dapat menyebabkan kelainan-kelainan letak janin.
  • Tumor kistik dapat pecah karena trauma luar atau trauma persalinan.
  • Tumor besar dan berlokasi di bawah, dapat menghalangi persalinan.
  • Penanganan berdasarkan pada (a) kemungkinan adanya keganasan, (b) kemungkinan torsi dan abdomen akut, dan (c) kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetric, maka :
    • Tumor ovarium dalam kehamilan yang lebih besar dari telur angsa harus dikeluarkan.
    • Waktu yang tepat untuk operasi adalah antara kehamilan 16-20 minggu.
    • Operasi yang dilakukan pada umur kehamilan di bawah 20 minggu harus diberikan substitusi progesteron :

(1)   Beberapa hari sebelum operasi.

(2)   Beberapa hari setelah operasi, sebab ditakutkan korpus luteum terangkat bersama tumor yang dapat menyebabkan abortus.

  • Operasi darurat apabila terjadi torsi dan abdomen akut.
  • Bila tumor agak besar dan lokasinya di bagian bawah akan menghalangi persalinan, penanganan yang dilakukan :

(a)    Coba reposisi, kalau perlu dalam narkosa.

(b)   Bila tidak bisa, persalinan diselesaikan dengan seksio sesarea.

Retensio Sisa Plasenta

Tag

 Definisi Retensio Sisa Plasenta

Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir.

Retensio sisa plasenta adalah sisa plasenta dan selaput ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum dini dan perdarahan postpartum lambat

Tertinggalnya sebagian plasenta sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta.

Klasifikasi Perdarahan Postpartum

Perdarahan postpartum primer

Ialah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi dalam 24 jam pertama  setelah anak lahir.

Perdarahan postpartum sekunder

Ialah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah 24 jam pertama setelah anak lahir, biasanya antara hari ke 5 sampai 15 hari postpartum.

Perdarahan postaprtum merupakan penyebab perdarahan bidang obstetrik yang paling sering. Sebagai penyebab langsung kematian maternal, perdarahan psotpartum merupakan ¼ penyebab kematian akibat perdarahan.

Jenis-jenis retensio plasenta

Plasenta Adhesiva

Adalah Plasenta yang belum lahir dan masih melekat di dinding rahim karena kontraksi rahim yang kurang kuat untuk melepaskan palasenta. Hal ini terjadi karena implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.

Plasenta Akreta

Istilah plasenta akkreta digunakan untuk menyatakan setiap implantasi plasenta dengan perlekatan plasenta yang kuat dan abnormal pada dinding uterus. Sebagai akibat dari infusiensi parsial atau total desidua basalis dan pertumbuhan fibrinosid yang tidak sempurna (lapisan Nitabuch) vili korialis akan melekat pada miometrium.

Plasenta Inkreta

Implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki miometrium.

Plasenta Perkreta

Implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.

Plasenta Inkarserata

Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh konstruksi ostiumuteri.

Etiologi

1.         Etiologi perdarahan postpartum lambat karena sisa plasenta :

Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (biasanya terjadi dalam 6 – 10 hari pasca persalinan). Pada perdarahan postpartum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik. Pada perdarahan postpartum lambat gejalanya sama dengan subinvolusi rahim, yaitu perdarahan yang berulang atau berlangsung terus dan berasal dari rongga rahim. Perdarahan akibat sisa plasenta jarang menimbulkan syok.

Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta, kecuali apabila penolong persalinan memeriksa kelengkapan plasenta setelah plasenta lahir. Apabila kelahiran plasenta dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa plasenta, maka untuk memastikan adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan tangan, kuret atau alat bantu diagnostik yaitu ultrasonografi. Pada umumnya perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik dianggap sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal dalam rongga rahim

Faktor Predisposisi

Faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan pascapersalinan :

Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu

Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia dibawatahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan terutama perdarahan akan lebih besar. Perdarahan pasca persalinan yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi daripada perdarahan pasca persalinan yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Perdarahan pasca persalinan meningkat kembali setelah usia 30-35tahun.

Perdarahan pascapersalinan dan gravida

Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida mempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pasca persalinan dibandingkan dengan ibu-ibu yang termasuk golongan primigravida (hamil pertama kali). Hal ini dikarenakan pada multigravida, fungsi reproduksi 4 mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadinya perdarahan pasca persalinan menjadi lebih besar.

Perdarahan pasca persalinan dan paritas

Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian perdarahan pasca persalinan lebih tinggi. Pada paritas yang rendah (paritas satu), ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas.

Tanda dan Gejala Retensio Sisa Plasenta

Tanda dan gejala yang selalu ada:

Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap

Perdarahan segera

Tanda dan gejala kadang-kadang ada:

Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang

Perdarahan pasca persalinan perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir.

Pemerikasaan Penunjang  (Wijknsastro, 2002).

Hitung darah lengkap

Untuk menetukan tingkat hemoglobin ( Hb ) dan hematokrit ( Hct ), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan infeksi.

Menentukan adanya gangguan kongulasi

Dengan hitung Protombrin Time ( PT ) dan activated Partial Tromboplastin Time ( aPTT ) atau yang sederhana dengan Clotting Time ( CT ) atau Bleeding Time ( BT ). Ini penting untuk menyingkirkan garis spons desidua.

Penatalaksanaan Medis

Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase.

Dalam kondisi tertentu apabila memungkinkan, sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.

Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.

Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan.

 

 

 

BENDUNGAN ASI

Tag

PERAWATAN PAYUDARA DENGAN BENDUNGAN ASI

 Menjaga payudara tetap bersih dan kering

  1. Menggunakan BH yang menyokong payudara
  2. Apabila putting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiapkali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet
  3. Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok
  4. Untuk menghilangkan nyeri dapat minum parasetamol 1 tablet setiap 4 – 6 jam
  5. Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukan :
  • Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit
  • Urut payudara dari arah pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah `Z` menuju putting
  • Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak
  • Susukan bayi setiap 2 – 3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap, seluruh ASI keluarkan dengan tangan
  • Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui
  • Payudara dikeringkan

Alat dan bahan yang digunakan, ialah:

  • Meja dan kursi
  • Ruang konseling
  • Baskom
  • Phantom payudara
  • Air dingin dan air hangat
  • Minyak kelapa
  • Kassa steril
  • Perlak
  • Handuk
  • Kom kecil
  • Bengkok
  • Sisir kecil

 Teknik menyusui yang benar

  1. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit untuk mengolesi puting dan areola, bermanfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting
  2. Bayi diletakkan menghadap perut ibu / payudara
  3. Ibu duduk / berbaring dengan santai, bila duduk usahakan kaki jangan menggantung dan punggung bersandar pada kursi
  4. Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan,kepala bayi terletak pada lengkung siku dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan
  5. Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu
  6. Perut bayi menempel pada tubuh ibu dan kepala bayi menghadap pada payudara
  7. Telinga dan lengan bayi terletak satu garis lurus
  8. Ibu menatap bayi dengan kasih sayang
  9. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari lain menopang di bawah, jangan menekan puting susu saja
  10. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut dengan menyentuhkan puting pada pipi bayi / menyentuh sisi mulut bayi
  11. Setelah bayi membuka mulut dengan cepat kepala bayi didekatkan dengan payudara ibu putting dan areolanya dimasukkan pada mulut bayi
  12. Usahakan agar sebagian besar areola masuk dalam mulut bayi, sehingga puting berada dibawah langit – langit dan lidah bayi menekan sempurna ASI keluar

Cara melepas hisapan bayi  dengan memasukkan jari kelingking ibu pada mulut bayi  melalui sudut mulutnya

Menyendawakan bayi

  • Tujuan mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak mutah
  • Caranya: menggendong bayi tegak dengan bersandar pada pundak ibu sambil punggung bayi ditepuk pelahan atau bayi ditengkurapkan pada pangkuan ibu

Tanda bayi menyusu dengan benar

  1. Bayi tampak tenang
  2. Badan bayi menempel pada perut ibu
  3. Mulut bayi terbuka lebar
  4. Dagu menempel pada payudara
  5. Sebagian besar areola tertutup mulut bayi
  6. Bayi tampak pelan menghisap kuat
  7. Puting susu tidak terasa nyeri
  8. Telinga dan lengan bayi satu garis lurus
  9. Kepala tidak mengadah

Anemia

Tag

Setiap orang baik wanita maupun pria bisa menderita penyakit kekurangan darah atau yang biasa kita sebut anemia. Seseorang dikatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin dalam darah kurang dari 12 gr%/100 ml. Keadaan dimana seseorang kekurangan darah atau anemia disebabkan oleh faktor kekurangan zat besi dalam tubuh, karena asupan gizi terutama protein di negara berkembang seperti Indonesia masih sangat sulit sebab penghasilan rata-rata masyarakat Indonesia tidak mencukupi untuk kebutuhan protein sehari-hari.Ditambah pendidikan masyarakat Indonesia yang masih sangat  rendah, karena faktor sosial ekonomi tersebut. Sehingga angka kejadian anemia di Indonesia masih sangat tinggi, terutama angaka anemia pada ibu hamil.

Pengertian anemia itu sendiri adalah suatu keadaan dimana eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun, sebagai akibatnya anemia lazim terjadi dan biasanya terjadi oleh defisiensi zat besi sekunder terhadap kehilangan darah sebelumnya atau masukkan zat besi yang tidak adekuat, penggolongan anemia dibagi menjadi tiga yaitu, anemia ringan, anemia sedang, dan anemia berat.

Kejadian anemia pada ibu hamil terjadi akibat seorang wanita yang sering mengalami kehamilan dan melahirkan akan mengakibatkan makin banyak kehilangan zat bezi dan menjadi makin anemis, sehingga seorang wanita yang mengalami kehamilan dan kelahiran membutuhkan gizi seimbang dan nutrisi yang lebih untuk menjaga kondisi tubuh ibu dan mencegah ibu agar tidak terkena anemia, selain itu untuk mempersiapkan persalinan bagi ibu hamil dan mengembalikan kadar hemoglobin setelah melahirkan

Oleh karena itu pemenuhan gizi seimbang dan nutrisi yang lebih baik akan mengurangi komplikasi pada saat persalinan karena disebabkan oleh anemia.

 

 

 

IKTERUS

Tag

IKTERUS (KUNING) PADA BAYI BARU LAHIR

PENGERTIAN IKTERUS

Ikterus adalah perubahan warna kulit / sclera mata (normal beerwarna putih) menjadi kuning karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Ikterus pada bayi yang baru lahir dapat merupakan suatu hal yang fisiologis (normal), terdapat pada 25% – 50% pada bayi yang lahir cukup bulan. Tapi juga bisa merupakan hal yang patologis (tidak normal) misalnya akibat berlawanannya Rhesus darah bayi dan ibunya, sepsis (infeksi berat), penyumbatan saluran empedu, dan lain-lain.

Bilirubin adalah zat yang terbentuk sebagai akibat dari proses pemecahan Hemoglobin (zat merah darah) pada system RES dalam tubuh. Selanjutnya mengalami proses konjugasi di liver, dan akhirnya diekskresi (dikeluarkan) oleh liver ke empedu, kemudian ke usus.

Ikterus fisiologis timbul pada hari ke-2 dan ke-3, dan tidak disebabkan oleh kelainan apapun, kadar bilirubin darah tidak lebih dari kadar yang membahayakan, dan tidak mempunyai potensi menimbulkan kecacatan pada bayi. Sedangkan pada ikterus yang patologis, kadar bilirubin darahnya melebihi batas, dan disebut sebagai hiperbilirubinemia.

Tanda – tanda hiperbilirubinemia bila:

1. Ikterus terjadi pada 24 jam pertama

2. Peningkatan konsentrasi bilirubin darah lebih dari 5 mg% atau lebih setiap 24 jam

3. Konsentrasi bilirubin darah 10 mg% pada neonatus (bayi baru lahir) kurang bulan, dan 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan

4. Ikterus yang disertai proses hemolisis (pemecahan darah yang berlebihan) pada inkompatibilitas darah (darah ibu berlawanan rhesus dengan bayinya), kekurangan enzim G-6-PD, dan sepsis)

5. Ikterus yang disertai dengan keadaan-keadaan sebagai berikut:

§ Berat lahir kurang dari 2 kg

§ Masa kehamilan kurang dari 36 minggu

§ Asfiksia, hipoksia (kekurangan oksigen), sindrom gangguan pernafasan

§ Infeksi

§ Trauma lahir pada kepala

§ Hipoglikemi (kadar gula terlalu rendah), hipercarbia (kelebihan carbondioksida)

Yang sangat berbahaya pada ikterus ini adalah keadaan yang disebut “Kernikterus”. Kernikterus adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak. Gejalanya antara lain: mata yang berputar, kesadaran menurun, tak mau minum atau menghisap, ketegangan otot, leher kaku, dan akhirnya kejang, Pada umur yang lebih lanjut, bila bayi ini bertahan hidup dapat terjadi spasme (kekakuan) otot, kejang, tuli, gangguan bicara dan keterbelakangan mental.

CARA MELIHAT IKTERUS PADA BAYI

Pengamatan ikterus kadang-kadang agak sulit apalagi dengan cahaya buatan. Paling baik pengamatan dilakukan dengan cahaya matahari dengan cara menekan sedikit kulit yang akan diamati untuk menghilangkan warna karena pengaruh sirkulasi. Jika warna kulit tetap kuning, berarti kemungkinan bayi kita telah mengalami ikterus, dan kadar bilirubinnya tinggi. Ikterus pada bayi baru lahir baru terlihat kalau kadar bilirubin mencapai 5 mg%. Pengamatan di RSCM menunjukkan ikterus baru terlihat jelas saat kadar bilirubin mencapai 6 %.

PENYEBAB IKTERUS

Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Produksi yang berlebihan, misalnya pada pemecahan darah (hemolisis) yang berlebihan pada incompatibilitas (ketidaksesuaian) darah bayi dengan ibunya.
  2. Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi akibat dari gangguan fungsi liver.
  3. Gangguan transportasi karena kurangnya albumin yang mengikat bilirubin.
  4. Gangguan ekskresi yang terjadi akibat sumbatan dalam liver (karena infeksi atau kerusakan sel liver).

PENATALAKSANAAN IKTERUS

  1. Bawa segera ke tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi ikterus pada bayi kita masih dalam batas normal (fisiologis) ataukah sudah patologis.
  2. Dokter akan memberikan pengobatan sesuai dengan analisa penyebab yang mungkin. Bila diduga kadar bilirubin bayi sangat tinggi atau tampak tanda-tanda bahaya, dokter akan merujuk ke RS agar bayi mendapatkan pemeriksaan dan perawatan yang memadai.
  3. Di rumah sakit, bila diperlukan akan dilakukan pengobatan dengan pemberian albumin, fototerapi (terapi sinar), atau tranfusi tukar pada kasus yang lebih berat.

Cara menyusui yang benar

Tag

 Sebelum menyusui :

  • Ibu terlebih dahulu mencuci kedua tangan dengan sabun sampai bersih.
  • Kedua puting susu ibu dibersihkan dengan kapas yang telah direndam terlebih dahulu dengan air hangat

Posisi menyusui :

  • Posisi berbaring dan duduk.
  • Duduk dengan bantal untuk menyangga punggung dan menahan tubuh bayi.
  • Angkat bayi menyamping dengan tubuh menghadap ke payudara ibu.
  • Tumpukan kepala dan leher bayi pada lengan ibu.

Cara Menyusui :

  • Posisikan bayi agar nyaman dalam dekapan ibu.
  • Bantu bayi menemukan puting susu ibu dengan cara menyentuhkan puting pada bibir atau hidungnya.
  • Usap pipi bayi hingga berpaling ke arah ibu dan siap menghisap.
  • Gendong bayi rapat ke arah ibu.
  • Posisi mulut harus sejajar dengan putting susu.
  • Punggung bayi harus berada dalam satu garis lurus, dan sangga dengan lengan.
  • Pada saat bayi membuka mulutnya, masukkan puting susu ibu sehingga bayi dapat langsung menghisap.
  • Mulut bayi harus menutup seluruh areola, membentuk penutup yang kencang.
  • Ibu harus merasakan lidah bayi menekan puting susu dan melihat rahangnya bergerak ketika menghisap.
  • Bila bayi merasa cukup, dia akan menghentikan hisapan tetapi mulutnya tetap menempel.
  • Ibu merasa payudara sudah kosong, tetapi bayi masih menghisap
  • Tekan areola ibu di daerah samping mulut bayi dengan jari kelingking sehingga puting terlepas dari hisapan bayi.
  • Sebelum memindahkan bayi ke payudara yang lain, bantu bayi bersendawa dengan cara menggendongnya pada posisi tegak di pundak ibu.
  • Dekap bayi dengan nyaman di lengan ibu, berikan payudara kedua untuk dihisap.